SEPATUKW.COM Toko Online Alas Kaki Branded KW Premium. SEPATUKW.COM Open Dropship dan Reseller. SEPATUKW.COM Jual Eceran dan Grosir Harga Termurah. SEPATUKW.COM Tangan Pertama Langsung Produsen. SEPATUKW.COM Garansi Barang Rusak Ganti Baru.
Beranda » Artikel Terbaru » Sejarah Merk Vans Naik Daun

Sejarah Merk Vans Naik Daun

Diposting pada 6 Januari 2021 oleh sepatukw | Dilihat: 10 kali

Sejarah Merk Vans Naik Daun

Ngomongin Sneakers, Vans bisa jadi satu-satunya brand klasik yang cepat ngetop lewat jalur non basket dan atletik. Bahkan dalam perkembangannya, brand ini juga makin populer berkat para pengusung musik cadas di Amerika Serikat. Tapi, sneakers Vans lebih dulu nempel dengan dunia skateboarding. Seperti yang terlihat di logo “Off The Wall”-nya, Vans, memang besar di scene skateboarding. Walaupun di Indonesia belum semasif di negara Paman Sam scene skateboardingnya, tapi paling nggak beberapa di antara kita udah kena terpa perjalanan sejarahnya lewat film. Dan Vans tampil di sana.

“Sejak SMA gue suka banget nonton video-video skateboarding gitu, salah satunya Lord of Dogtown. Dari situ gue terinspirasi untuk memakai sepatu yang dipakai oleh para skater. Ditambah lagi gue juga suka musik, jadi gue cari lah sepatu yang mereka pakai. Menurut gue Vans itu street wear yang paling asik. Desainnya seru dan spesial. Karena itu, gue suka Vans,” kata Achmad Asri Anugra, atau akrab disapa Ai’ Anugra.
Ya, berawal dari kesukaannya terhadap dunia skateboard dan musik alternatif, banyak anak muda jadi menggilai Vans. Sayang, saat Ai SMA, peredaran Vans masih jarang. Ai pun hanya bisa membeli Vans versi KW-nya. Di perkuliahan, kecintaannya terhadap sneakers langka itu masih ditutupi dengan menggunakan sneakers merk lain, Converse. Hingga akhirnya sejak 2009, setelah Ai sudah memiliki penghasilan dari kerjanya sebagai auditor, kecanduannya terhadap sepatu Vans ia turuti. Satu persatu sepatu Vans rilisan spesial ia buru dari forum komunitas maupun online shop skala internasional.

Walau pun kini Vans sudah membuka gerai resminya di beberapa mal di Indonesia, Ai ngaku hanya satu-dua kali membeli Vans dari sana. “Vans yang untuk gue kasih ke pacar gue doang kayaknya yang beli dari official store Vans indonesia,” celetuk cowok 29 tahun ini.
Maklum sih, sepatu-sepatu Vans rilisan spesial yang diburu Ai nggak dipasok oleh PT Gagan Indonesia, distributor resmi Vans di Indonesia. Mau nggak mau, Ai harus mendapatkannya dari luar negeri, dengan konsekuensi tambahan biaya kirim pastinya.

“Vans pertama gue tuh Vans Oldskool. Beli di Kaskus. Setelah itu jumlahnya nambah terus, jadi banyak,” lanjut Ai.

Jumlah sepatu Vans milik Ai kini nggak kurang dari 30. 20 pasang ia taruh di kosnya, di Setiabudi, Jakarta Selatan. Sisanya ia taruh di rumahnya di Bekasi. Sepatu-sepatu yang ia anggap spesial selalu ia taruh dalam boxnya, ditumpuk di atas lemari. Sepatu yang kemungkinan sering dipakai di pajang di rak sepatu luar kamarnya.

Alasan utama Ai menyukai Vans selain karena gayanya yang street banget, Vans tuh memiliki rajin banget mengeluarkan edisi spesial. Vans bahkan sampai membuka dua lini lainnya selain yang versi general release. Ada Vans Syndicate, lini yang kerap mengajak band, skateboarder, serta street artist berkolaborasi, ada juga Vans Vault untuk kolaborasi dengan butik-butik fashion ternama.

Ketika ditanya koleksi Vans mana yang paling ia favoritkan, Ai kelimpungan menjawab. Maklum, semua koleksinya pasti punya nilai atau ceritanya masing-masing. Vans Supreme Power Corruption and Lies misalnya, sepatu yang desainnya mengambil dari desain album band pop New Order bertajuk sama, Power Corruption and Lies yang dibuat oleh seniman Peter Saville, itu Ai dapatkan dari sebuah forum online seharga USD 180 atau sekitar Rp 2 juta, lebih mahal dari harga resminya yang hanya USD 116. Tapi pastinya tipe Vans yang wajib di miliki Vanshead udah ada di lemarinya.

“Gue emang suka sama New Order. Jadi pas Vans sama Supreme kolaborasi rilis Vans ini pasti gue beli,” kata Ai. Vans edisi musik lainnya yang Ai punya adalah Vans Metallica, Vans Pixies, Slayer, dan Vans H20.
Ai juga gandrung terhadap Vans dengan desain khas ciptaan seniman dan butik tertentu. Vans garapan seniman Jepang bernama Taka Hayasi saja Ai punya lebih dari tiga, salah satunya adalah Vans desain motif dengan bahan wol hasil kolaborasi Vans dengan produsen wol di Amerika, Pendleton. Desainnya dibuat oleh Taka Hayasi.

“Gue punya dua jenis Vans Paddleton, beda warna doang sih. Waktu itu gue beli sekitar Rp 3 jutaan,” papar Ai.

Ya, Ai juga nggak jarang membeli lengkap varian dari suatu edisi Vans. Selain edisi Vans x Paddleton itu, Ai juga memiliki dua varian edisi kolaborasi Vans dengan butik DQM dan label rekaman Blue Note. Begitu juga dengan Vans edisi New Order tadi, Ai berniat untuk membeli yang versi Chuka dan Sk8-Hi, “Gue bakal cari vinyl album itu juga. Terus bakal gue pajang bareng sepatu-sepatunya. Jadi memorabilia.”

Kecintaannya terhadap Vans suka bikin Ai nggak bisa nahan diri. Tiap kali nemu Vans yang ia incar dan ukurannya sesuai, Ai bisa langsung memesannya. Saat masa-masa impulsifnya, pernah tuh dalam satu bulan Ai beli empat sepatu sekaligus. Semua datang di hari yang sama.

“Tiap ada yang bagus gue beli. Suka nggak mikir. Dan gue sering impulsif, tiba-tiba beli. Beberapa bulan lalu aja gue beli tiga langsung,” kata cowok yang beberapa kali ditegur sama ortunya dan pacarnya karena kelewat sering jajan sepatu ini.

Seperti yang bisa ditebak, sepatu-sepatu koleksi Ai itu banyak yang bernasib menjadi pajangan ketimbang sebagai alas kaki. Maklum, Ai jarang banget memakai Vans koleksiannya yang edisi spesial, ada beberapa yang malah belum pernah ia pakai sekalipun.

Tapi, walau begitu, Ai selalu menempatkan Vans sebagai prioritas utamanya ketika memilih sepatu.

“Selain untuk kerja dan olahraga, gue akan pakai Vans. Bahkan, ke undangan pernikahan pun gue pakai Vans,” kata Ai. Vans andalan Ai untuk ke pesta itu adalah Vans Derby.

Bagi Ai, mengoleksi Vans nggak ia anggap sebagai investasi finansial. Betapapun langka koleksinya, Ai nggak kepikiran untuk menjual Vansnya demi uang doang.

“Kalau orang lain mendapatkan kepuasan dari travelling, atau dugem misalnya. Gue mendapatkan kepuasaan dari mengoleksi Vans. Bukannya sombong, tapi gue nggak pernah nyesel sih udah ngeluarin banyak uang untuk Vans. Toh, gue bukan tipe yang pamer koleksian gue di media sosial sekali pun,” kata pemilik akun Instagram @Aianugra ini.
“INVASI” VANS DI RI

Kalo ditanya kapan tepatnya Vans mulai ada di negara kita, jawaban pastinya adalah jauh sebelum brand ini buka original store-nya di Jakarta. Tentunya masuk lewat jalur kolektor dan pebisnis yang membelinya dari luar negeri untuk kemudian dijual lagi di sini. Tahunnya pun masih sekitar 1990-an, dan penyebarannya masih di kalangan tertentu aja. Pastinya, juga nggak jauh-jauh dari kehidupan permainan skateboard, atau kehidupan para pecinta musik independen. Lantas, bagaimana sebenarnya kisah perjalanan Vans hingga bisa melebarkan sayap dan menyiarkan influence-nya ke dalam negara kita?

“Sebetulnya kalau tahun 1970-an atau 1980-an, gue nggak bisa banyak bicara lah ya. Karena gue nggak setua itu juga. Tapi kalo kita bicara tahun 1980-an akhir dan tahun 1990-an, gue bisa banget bicara. Itu zamannya gue, zamannya gue masih muda banget. Emang zamannya gue nyari sepatu Vans juga. Tahun-tahun segitu, yang make Vans hanya anak skate, anak band, anak BMX juga, dan anak-anak yang berkecimpung di scene musik independen,” jelas Claude Hutasoit, salah satu pentolan skate berusia 38 tahun, yang HAI ajak ngobrol beberapa saat lalu di salah satu arena permainan skateboard di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

VansHai Online
Vans
Crooz, salah satu store awal yang menjual Vans di Indonesia
Pria yang kemudian akrab disapa dengan panggilan Bang Claude ini kemudian menegaskan, kalau pengaruh skena musik punk, hardcore, serta indie, atau british music di Indonesia, sesungguhnya amat berdampak pada ‘invasi’ Vans ke Indonesia. Pasalnya, alas kaki yang digunakan oleh jagoan-jagoan di aliran musik tersebut nggak lain datang dari merek sepatu Vans. Maka selanjutnya, kita tentu nggak boleh heran kalau anak-anak Indonesia, yang mendengarkan dan menyaksikan penampilan dari band-band idolanya, jadi tertarik untuk mengikuti gaya sang musisi favorit, termasuk dengan gayanya mengenakan sepatu Vans.

“Sejauh yang gue inget, detil yang paling gue inget terakhir adalah, di salah satu video clip-nya Blur, Damon Albarn itu emang pake sepatu Vans Oldskool, kalo nggak salah itu di video clip Parklife. Nah, menurut gue, video clip itu yang membuat anak-anak sini, yang suka dengan indie, indie-indie British gitu, menggunakan Vans,” cerita Bang Claude dengan penuh semangat.

Berarti, masuknya Vans di Indonesia rasanya nggak bisa dilepaskan begitu saja dari roots-nya, yakni skena musik punk, hardcore, atau musik independen. Karena kalau dikaitkan dengan contoh kasus Blur tadi, tentu skena musik tersebut jadi salah satu faktor yang turut ambil andil dalam menyebarkan ‘virus’ Vans ke Tanah Air.

Satu lagi jalur invasi brand ini di tanah air adalah dari budaya pop Jepang yang bisa dikonsumsi kawula muda lewat majalah-majalah impor.

Dibandingkan dengan pemakai yang berasal dari ranah skateboard dan musik, rupanya ada juga yang terpengaruh oleh style fashion Jepang. Meski jumlahnya jauh lebih dikit, tapi mereka adalah orang-orang yang memang suka fashion, banyak membaca buku atau majalah yang memang menjadikan gaya Jepang sebagai referensi.

“Yang menyukai itu sih, sangat sedikit. Bener-bener nggak nyampe deh 50 orang di Jakarta, dulu. Mungkin hanya 20-an kali ya. Yang into banget. Gue pun akhirnya dikenalin sama salah satu orang, dan ternyata gue baru ngeh, memang ternyata ada orang-orang yang into Vans karena si fashion Jepang ini, bukan karena si skate atau musik. Jadi dari segi fashion-nya, gitu,” ungkap Bang Claude lagi. “Dengan lo lihat sekarang Vans udah ada di mana-mana, ya itu efeknya si streetwear itu. Dan of course efek skateboard-nya sih yang utama, masih tetap roots-nya itu.”

Faktanya memang, kehadiran yang dibawa oleh arus streetwear Jepang itu sama sekali nggak mengganggu atau bahkan mempengaruhi pemakai yang datang dari kalangan skateboard atau musik. Mereka cukup nggak peduli sama gaya Jepang itu, karena mereka sesungguhnya menganggap Vans sebagai sneakers yang memang fungsional untuk dipakai bermain skate. “Dan kita pakai juga buat manggung. Manggung kan lo juga lompat-lompat segala, ya lo kan band-band hardcore dan punk, kan pasti (Vans itu) rusak juga pada akhirnya,” timpal Bang Claude.

Malah, hubungan Vans ini dengan penjualan di sini sempat mengalami masalah. Pas awal kemunculannya lewat para reseller di tahun 2000-an awal, Vans sempat mempermasalahkan soal hak cipta dan menghentikan jalur distribusinya ke Indonesia. Fakta-fakta ini kami himpun juga dari Surya (salah satu pendiri Penny yang menjual Vans original sejak tahun 2010), Max Praditya (pemilik Crooz, yang sekarang menjadi official partner dari PT Gagan Indonesia –distributor resmi Vans di Indonesia), dan Bang Claude sendiri.

“Jadi ada orang yang bikin merek lain. Dia tuh ngejiplak VANS banget, sama dia tuh di-hak ciptain gitu ya. Akhirnya sama VANS luar ketahuan, mereka berhenti supply VANS ke sini, dan mereka bawa ke pengadilan. Pengadilan berapa tahun nggak beres-beres, sampai akhirnya beres, (VANS) diambil sama perusahaan baru di sini. Dan ya VANS yang kita lihat sekarang, ya udah VANS yang udah di mana-mana. It’s everywhere now,” beber Bang Claude dengan teramat rinci.

Akhirnya, Vans hadir lagi di Indonesia tahun 2013 dengan membuka original store pertamanya di Kota Kasablanka. Lisensinya dipegang oleh PT Gagan Indonesia. Namun, beberapa tahun sebelumnya, sekitar 2010 udah ada beberapa toko sepatu alternatif di Jakarta yang menjualnya. Surya Adi Sisyanto, seorang anak band yang kerap menggunakan sepatu Vans saat manggung, pun nggak luput dari kesulitan yang mungkin dialami juga oleh banyaknya pemakai lain. Dipadukan dengan niat untuk bikin bisnis, Surya dan beberapa orang teman kuliahnya pun menjadikan kondisi-sulitnya-memperoleh-Vans ini sebagai peluang usaha. Yap! Sejak tahun 2010, Surya resmi membuat brand Penny yang awalnya dikenal dengan sneakers shop, dengan produk andalannya, the one and only, Vans

“Awalnya kan, karena kita baru lulus kuliah, ngeband-ngeband, mikir wah seru bikin bisnis. Akhirnya mikir bikin bisnis apa ya, kita bikin sneakers shop deh. Ya udah, saat itu awalnya kita berlima sama-sama sangat berusaha nyari Vans kalo di sini. Terus ya udah, kita bikin tokonya aja, orang-orang kan susah nyarinya,” kenang Surya.

VansHai Online
Vans
Dulu, mencari Vans harus ke luar negeri
Meski sekarang di bawah brand Penny telah hadir banyak produk lain yang berasal dari merek-merek yang nggak cuma Vans aja, toh keterlibatan Penny dalam menghadirkan VANS di Indonesia, nggak bisa diabaikan begitu aja. Padahal, terpilihnya Vans sebagai produk utama yang dijual oleh Penny, bukan semata-mata karena kecintaannya aja, tapi juga terbentur masalah modal.

“Orang mungkin mikirnya, toko kami spesialis Vans. Padahal nggak, alasannya karena modal juga. Kami kan modalnya dikit. Mending kita fokus ke satu brand, dan kita juga suka,” tutur lelaki berusia 30 tahun ini.

Tentunya, Penny nggak bisa juga dibilang sebagai satu-satunya usaha yang mempermudah hadirnya produk original VANS ke Indonesia. Selain Penny, ada juga Crooz yang di saat bersamaan, juga turut menjual produk VANS yang dibawanya dari berbagai negara. Jepang, Filipina, Singapura, atau Malaysia adalah beberapa negara yang dikunjungi oleh Max Praditya, owner dari Crooz, untuk membeli produk VANS.

“Crooz dibuka tahun 2003, namun kita mulai jualan VANS itu di sekitar 2010-an lah ya. Cuma dulu kita beli VANS itu kebanyakan di luar. Ada beberapa yang limited juga kita ambil, dan beberapa dari Amerika juga,” cerita Max.

Nggak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh Max dengan Crooz-nya, Surya dengan Penny-nya juga mesti berburu sepatu VANS hingga ke Singapura, bahkan ke Hong Kong. Ia pun sempat harus berurusan dengan cukai, lantaran jumlah sepatu yang dibawa juga dalam partai gede.

“Kita bawa kan yang bener-bener 50 pasang, berdoa aja kalau nggak akan ketangkep. Begitu terus, tapi akhirnya karena kita traveling gitu, kita kenal sama koneksinya, sekarang semua udah ada koneksinya, terus tinggal kita mau apa, dan ada temen yang mau bantuin sih tentunya, gitu,” curhat Surya.

Sejak berdiri pada Mei 2013 di Kota Kasablanka, Vans original store sudah punya 12 store resmi. Tersebar di 6 kota, yakni Jakarta, Bekasi, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Yogyakarta.

Terus, pertanyaan selanjutnya, gimana sama nasib-nasib toko yang menjual VANS original setelah masuknya toko resmi pegangan PT Gagan?

“Ya syukur-syukur kalau Vans akhirnya diakui di Indonesia. Dari awalnya kita bikin (Penny) terus booming, mungkin akhirnya mereka mikir, ‘wah ini bisnis nih’. Kita seneng lah. Kita bisa beli dari sini aja, nggak perlu repot-repot pergi,” tutur Surya yang emang sekarang jadi sering memasok produk VANS dari distributor resmi.

Berhubung Penny sekarang juga nggak cuma jual produk Vans, maka kehadiran Vans resmi sebetulnya nggak terlalu berpengaruh kalo ngomongin pendapatan. Emang sih, jumlah sepatu Vans yang dijual sama Penny mengalami penurunan, tapi nggak sampe hilang sama sekali, kok. Malahan, masih banyak juga yang memilih buat beli di Penny. Kenapa?

“Mungkin dulu (bisa jual) 150-200an pasang (dalam satu bulan). Karena dulu masih murah juga. Kalo sekarang, ya paling 80-100an pasang. Dan masih ada (yang beli dari sini juga), karena lebih murah. Kita ngeliat dulu tipe apa yang dijual di pasaran, terus kita cukup ambil yang Classic Canvas. Nah, kalo untuk yang aneh-aneh, biasanya kita ambil sendiri (dari luar). Terutama Vans Jepang selalu beda sendiri. Karena hanya dijual di Jepang doang,” lanjut Surya.

Sebagai salah satu penjual VANS yang udah famous, Penny juga nggak ketinggalan informasi kalo emang ada sepatu Vans special edition. Alih-alih cuma bisa dicari di toko resmi, toko-toko macam Penny dan Crooz juga pasti punya produk yang diincar banyak pecinta Vans. Jadi, mereka tetep bisa mempertahankan customer lama-nya.

Crooz sendiri, malahan udah diajak jadi partner-an sama PT Gagan Indonesia. Semua lantaran Crooz sendiri cukup eksis berjualan VANS. “Ya, mereka coba approach ke kita, karena mereka akhirnya ada program di beberapa kota besar di Indonesia. Mereka pengen punya reseller di luar mereka sendiri. Tapi satu kota satu reseller doang, akhirnya udah setahunan lebih (sejak 2015), kita akhirnya sama PT Gagan. Resmi buat jadi reseller-nya Vans di Jakarta,” beber Max.

Setelah digandeng resmi, nggak heran kalo model di Crooz sama model Vans di toko-toko resminya pun kadang ada banyak yang sama. Tapi emang, ada beberapa juga yang dibedain, tergantung kesepakatan dua belah pihak. Untuk modelnya sendiri, selain udah pasti menjual produk Vans Classic, yang dilempar ke Crooz juga adalah produk-produk seasonal yang kerap terus berubah. “Ada yang sama, ada yang dijanjiin juga kalo (produknya) lebih ke kita (aja), karena kan kita dianggap sebagai penggerak community-nya kalau di Vans, cuma ya seasonal-nya kadang-kadang ada di kita, kadang-kadang ada di mereka. Gitu,” lanjut Max.

Satu faktor lain yang bikin Crooz bisa mempertahankan penjualan Vans-nya sampe sekarang, adalah customer engagement. Gampangnya gini, menurut Max, ada banyak anak muda yang nggak mall-oriented alias jarang ke mal. Buat mereka, toko itu ya yang punya jualan streetwear, ada community gathering-nya, plus ada nongkrongnya. Dan semua itu, nggak dimiliki sama toko resmi yang ada di mal. Maka, customer Vans pun jadi nyebar. Ada yang ke Crooz, ada yang ke mal, dan mungkin ada yang ke tempat lain juga. “Karena kan ujung-ujungnya waktu mau beli, kebanyakan barangnya sama juga antara yang di sini dan di mal. Kenapa mereka harus ke mal?” tanya Max.

Nah menariknya, Vans yang kelihatan terus menggeliat dan menggairahkan seakan bikin banyak pihak nggak mau kalah untuk ikutan terjun ke dalamnya. Buktinya, Max sendiri ngaku masih ada banyak reseller Vans original lain yang bermunculan. Lucunya, sebagian dari reseller itu ngambil barangnya juga ada yang ke Crooz.

 

Sejarah Merk Vans Naik Daun | SEPATU KW

Komentar dinonaktifkan: Sejarah Merk Vans Naik Daun

Maaf, form komentar dinonaktifkan.

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
QUICK ORDER
Sepatu Sneakers Nike KW Blue Navy

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Sepatu Sneakers Nike KW Blue Navy *Mulai Rp 57.505
Ready Stock / SKW153
*Mulai Rp 57.505
Ready Stock / SKW153
QUICK ORDER
Grosir Sepatu Nike Murah Full Black

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Grosir Sepatu Nike Murah Full Black *Mulai Rp 52.904
Ready Stock / SKW228
*Mulai Rp 52.904
Ready Stock / SKW228
QUICK ORDER
Sandal Pejabat Wanita Harga Merakyat

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

sandal wanita murah *Mulai Rp 23.002
Ready Stock / SKW110
*Mulai Rp 23.002
Ready Stock / SKW110
SIDEBAR